Tema kajian ini adalah suatu tema yang terasa berat di hati kita semua. Terutama berat sekali bagi si pemateri, karena si pemateri sendiri belumlah pantas dikatakan sebagai orang yang dunia ada ditanganya dan akhirat dihatinya. Maka majelis ini lebih pantas dikatakan sebagai majelis saling menasehati dan muroja’ah, mengulang apa yang telah kita dapatkan, saling mengingatkan apa yang telah kita ketahui. Bukan majelis ato’, memberi dan menerima . Karena kita semua ini sama, masih terlalu cinta kepada dunia. Dan itu terbukti pada amalan-amalan kita, secara tidak sadar. Kalo kita baca kalam/perkataan ulama, maka kita akan betul-betul tersadar dengan tersadar-sadarnya, insya Allah bi Taufiqillah, bahwasanya ternyata cita-cita kita itu terlalu panjang, angan-angan kita itu terlalu muluk, hati kita terlalu penuh dengan kehidupan dunia. Makanya sekali lagi, materi ini terasa berat untuk disampaikan.
Yang jelas, ayyuhal ikhwah rahimani wa rahimakumullah, sumiya hayatud dunya hayatad dunya, kehidupan dunia ini dinamakan kehidupan dunia. Yang berasal dari kata dunu, dani atau dana’ah. Dunu itu artinya dekat, sehingga bisa diartikan dunia ini adalah kehidupan yang dekat dan singkat. Tidaklah panjang. Sehingga ketika seseorang telah lepas dari kehidupan dunia dan ia sampai dikehidupan akhirat, dia akan merasakan tinggalnya dia di dunia ‘asiayatan aw dhuhaha. Hanya sepenggal waktu sore atau hanya sepenggal waktu pagi, atau mungkin lebih pendek daripada waktu itu. Mungkin hanya sepenggal waktu di siang hari. Itulah dunia. Dekatnya atau pendeknya kehidupan dunia ini. Walaupun panjangnya tempo yang dirasakan seseorang ketika hidup di dunia.
Kemudian dunia ini disebut dunia, li danaatiha , karena kerendahannya atau kehinaanya. Dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Maka banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah mata’.Sekedar atau sedikit kenikmatan. Dikisahkan oleh Rasulullah salallahu’alaihi wassalam, bahwasannya kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat sebagaimana seseorang yang memasukkan jarinya ke lautan, kemudian diliat, apa yang tertinggal di jarinya. Maka itulah dunia. Permisalah kesenangan dunia dibandingkan kehidupan akhirat. Jadi kesenangan yang selama ini kita rasakan, itu jaaauuuhh lebih kalah dibandingkan kenikmatan dan kesenangan yang dirasakan seorang muslim di rumahnya nanti, di sorga, Insya Allah. Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menerangkan tentang dunia dan juga tentang akhirat. Diantara ayat-ayat yang dibawakan adalah bahwasanya dunia ini hanya sekedar mata’, disebutkan dalam surat Al mu’min ayat 39, dan ini ternyata adalah wasiat orang terdahulu. Menceritakan tentang perkataan seorang dari keluarga fir’aun, di zaman nabi Musa. Dunia ini hanyalah sekedar mata’, itu adalah kesepakatan seluruh para nabi dan para rosul. Difirmankan oleh Allah, menceritakan tentang perkataan seorang dari keluarga Fir’aun, dia berkata “Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah mata’, kesenangan yang tidak seberapa, sedangkan kehidupan akhirat adalah kampung yang kekal. Kenikmatan yang sebenarnya”. Dalam ayat yang lain Allah mengingatkan tentang kehidupan dunia , baltu’ tsirunal hayatad dunya , akan tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia. Peringatan Allah kepada ummat manusia. Wal akhiratu khoirun wa abqa,padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan jauh lebih kekal. Ini diantara beberpa ayat yang menerangkan bahwa kehidupan dunia itu tidak seberapa. Dalam ayat yang lain, Allah mengatakan yang artinya, bahwa dunia ini tidak lain hanyalah sekedar main-main dan senda gurau belaka, sedangkan akhirat lah yang sesungguh-sungguh kehidupan, seandainya mereka mengetahui. Dan masih banyaksekali ayat-ayat yang menerangkan tentang kehidupan dunia.
Rasulullah salallahu’alaihi wassalam pun juga menerangkan, pandangan beliau terhadap dunia, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan dihasankan oleh beliau, hasan Shahih, Rasulullah mengatakan “Apa lah artinya dunia ini bagiku.. Aku sama sekali tidak ada kepentingan dengan dunia ini,permisalan ku dan permisalan kehidupan dunia, sebagaimana permisalan seorang pengendara, yang sedang mengendarai kendaraan, lalu beristirahat sejenak dan bernaung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya”. Permisalan yang dibuat Nabi ini memperingatkan kepada kita semua bahwasanya kehidupan dunia di mata beliau tidak ada nilainya. Sebagaimana nanti akan kita sebutkan sebagian perkataan-perkataan Rasulullah dan perkataan para ulama, tentang bagaimana mereka memandang dunia.
Saya akan berangkat dari suatu kitab Hadits Arba’in An nabawiyah. 40 buah hadits yang ditulis oleh Imam An Nawawi rahimahullah , hadits yang ke-40, dan saya bacakan perkataan-perkataan ulama, dan tentunya disitu ada perkataan Rasulullahi salallahu’alaihi wassalam, komentar beliau, dan kementar ulama setelahnya tentang dunia.
Dalam hadits ini diterangkan, suatu saat ibnu Umar berkata, Rasulullah memegang dua pundakku sembari mengatakan “Wahai ibnu Umar, jadilah engkau dalam kehidupan dunia ini seakan-akan engkau adalah orang yang asing, yang bukan berada ditempat tinggalmu. Atau sebagai orang yang sedang lewat menyebrang jalan ”. Ini adalah nasehat nabi kepada Ibnu Umar. Wahai Ibnu umar, tanamkan dalam jiwamu bahwa engkau hidup di dunia ini seakan-akan engkau orang asing, engkau tidak tinggal di rumahmu, engkau tinggal di rumah orang lain. Engkau orang asing, tidak ada yang engkau kenal. Atau engkau hanya sekedar lewat dalam suatu perjalanan dan singgah sebentar untuk mencari bekal kemudian tinggalkan tempat itu ! Memerintahkan kepada ibnu umar untuk menanamkan perasaan dlam jiwa, bahwa seseorang itu ketika tinggal di dunia hanyalah sekedar seperti orang asing yang singgah di suatu tempat yang tidak dia kenal. Tidak ada perasaan sedikitpun untuk menetap di situ. Tidak ada keinginan sedikitpun untuk bersaing dengan penduduk setempat. Karna rumah tempat dia tinggal, tujuan dia melakukan perjalanan lebih baik dan lebih kekal.
Apalah artinya membangun gedung tingkat tinggi, di suatu desa yang ternyata bukan tempat tinggal kita. Apalah artinya seseorang memilki lahan yang luas, yang ternyata akan dia tinggalkan begitu saja. Ini yang harus ditanamkan dalam jiwa seorang muslim.
Atau hanya sekedar lewat. Kita seakan-akan sedang lewat. Sejak kita lahir dari perut ibu kita, maka mulailah sebuah perjalanan yang sangat panjang. Hari demi hari adalah ajal yang dilipat-lipat. Itulah kenyataan kehidupan dunia. Bayangkan bahwa kita itu adalah seseorang yang sedang melakukan perjalanan, kendaraan kita, itu adalah ajal. Semakin kita berjalan, semakin dekat kita kepada ajal.
Kemudian Ibnu Umar mengatakan, mengomentari hadits ini, “Apabila engkau berada diwaktu sore, jangan menunggu sampai waktu pagi”. Maksudnya, jangan tanamkan dalam pikiran kita bahwasanya kita akan masih tetap hidup besok pagi. Kerjakan apa yang bermanfaat bagi diri kita di sore ini ! “Apabila telah sampai waktu pagi, tanamkan dalam jiwa kita bahwasanya kita tidak akan pernah sampai di sore hari”. Sehingga kita betul-betul menggunakan waktu kita, kita betul-betul memperbanyak bekal kita untuk pulang ke rumah kita dengan oleh-oleh yang banyak. Cukup untuk mengetuk pintu jannah, pintu sorga. Gunakan waktu sehatmu, Kumpulkan amalam-amalan kamu ketika kamu sehat ! Sebelum datangya rasa sakit. Dan gunakan masa hidupmu, masa selama kamu hidup di dunia, untuk menghadapi kematian.
Dalam riwayat yang lain, ditambahkan di sana, “dan anggaplah dirimu itu adalah penghuni kubur”. Dalam riwayat yang lain, ibnu Umar menambahkan perkataanya “Wahai Hamba Allah, Sesungguhnya kamu tidak tahu, siapa nama kamu besok”. Sekarang nama saya Redi, Redi Ramli. Besok, rahimahullah, Al Marhum Redi. Sekarang kita manusia, besok jenazah. Sekarang kita dipanggil, abang, uda, besok dipanggil mayit. Orang bertanya “Mana si redi ? Yang kemaren baru saja duduk di masjid”. “Oo, dia telah meninggal, itu jenazahnya”. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu.
Kata Ibnu Rojab Al Hambali, hadits ini adalah suatu hadits yang sangat agung. Suatu pokok, suatu standar, suatu kaidah, suatu pegangan seorang muslim untuk tidak berpanjang angan.
Kalo kita hidup di dunia, angan-angan kita jauh melambung. Iya kan..?!
Kalo ditanya, setelah ini mau kemana? Oh , nanti saya akan sholat Isya.. Ini kata para ulama, termasukDhullul ‘amal (panjang angan). Setelah ini, apa yang anda lakukan? Oh , saya mau ke menjenguk orang sakit. Ini Dhullul Amal. Silahkan anda imami sholat ini..! Saya ngak mau imami.. Gak pa pa.. Imami saja.. Baiklah, tapi untuk kali ini saja. Kata ulama, yang seperti ini namanya Dhullul ‘amal. Memangnya kamu berpikir bahwa kamu masih hidup esoknya dan akan bisa shalat di waktu lain. Ini namanya Dhuullu amal, atau panjang angan. Ini bukti kalo ternyata ini diterapkan dalam kehidupan kita, waww, luar biasa kita dhullul amal nya, luar biasa kita itu panjang angannya.
Diriwayatkan dari Hasan Al Bashri ada 3 orang ulama berkumpul, kemudian terjadi diskusi. Ya akhi, apa angan-anganmu.. Oh angan saya, “tidaklah berlalu sebulan kecuali saya akan mati”. Maka yang satu lagi berkata, “Wah betul-betul panjang angan-anganmu”. Lalu kamu apa? Kalo saya “Seminggu lah paling, saya akan mati”.. Dan kamu, apa yang kamu angan-anagankan.. ? “Wah, bagaimana mungkin saya akan berangan-angan, lho wong jiwa saya itu di tangan Allah subhanahu wa ta’ala”..
Ya, nanti kalo saya sudah pensiun saya akan naik haji.. Dhullu amal..
Ya, nanti kalo saya sudah lulus, skripsi selesai, saya akan nikah.. Dhullu Amal..
Panjang angan …
Ya, nanti kalo saya sudah taklim ini saya akan makan malam.. Panjang angan !
Trus gimana.. ? Anda bayangkan anda duduk dan tidak bisa bangkit lagi, kecuali bila dibangkitkan oleh orang lain.. Itu, baru namanya yang bukan panjang angan.. Dan ini berat, ayyuhal ikhwah..
Maka saya katakan, ini materi yang luar biasa beratnya, dipukul saya dari sana sini. Dipikul sini oleh ulama yang ini, dipukul dari sana oleh ulama yang itu, lalu ditimpa oleh Hadits nabi, dihantam lagi oleh ayat Al quran.. Berat sekali rasanya.. Mudah-mudahan ini adalah peringatan bagi kita semua.
Menyebutkan oleh Imam Ibnu Rojab, ini sebuah kaidah penting bagi seorang muslim, beliau mengatakan , “Sudah sewajibnya bagi seorang mukmin tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal dan tempat istirahat nya sehingga dia pun merasa tenang dengan dunia, akan tetapi kewajiban seorang muslim, seakan – akan dia menanamkan dalam jiwanya, bahwasanya dia itu adalah orang yang siap kapan saja dipanggil ”
Makanya ada salah seorang sahabat, beliau bernama Abu Darda’ , ketika ada sahabat lainnya masuk ke dalam rumahnya, dilihat rumahnya kosong melompong. Nggak adam perabot. Ibaratnya dizaman kita, nggak ada mesin cuci, setrika , ngak ada kompor gas, kompor minyak pun gak ada. Trus sahabtnya bertanay, “Wahai Abu Darda’, ayna mata’ ? (Mana perabotanmu?)”. Perabotan apa, jawab Abu Darda. “Dunia ini hanya sementara”.. Abu Darda menjelaskan..
Rasulullah salallahu’alaihi wassalam bersabada , “Apalah artinya duni bagiku. Saya sama sekali tidak terkait dengan dunia, tidak tertarik dengan dunia, karna sesungguhnya permisalan aku dengan dunia, bagaikan seorang pengendara yang singgah di bawsah sebatang pohon, lalu pergi dan melanjutkan perjalanan”.
Akan tetapi ayyuhal ikhwah, apakah ini berarti kita meninggalkan dunia begitu saja.. ? Siapa yang bisa menjawab ?
Jawabannya adalah tidak, wahai saudaraku semua. Sementara kita hidup di dunia, maka jadikanlah dunia sebagai tempat mencari perbekalan. Kita boleh menikmati apa yang ada di dunia. Meskipun diantara sahabat ada yang rela meninggalkan kemewahan dunia, disebabkan takut berkurang kenikmatan akhirat mereka. Diantaranya adalah Umar bin Khatab, yang pernah mengatakan “Seandainya kalo aku tidak takut bahwa kemewahan dunia itu akan mengurangi jatahku di akhirat, maka aku akan beli semua kemewahan hidup di dunia ”..
Baik, apa itu kaidah-kaidah dalam menikmati hidup dunia.. ?
Kita boleh menikmati dunia ini dengan 2 syarat :
Dalam mencari kenikmatan dunia, hendaklah didasari dengan Ketaqwaan, dengan syariat Islam dan dengan ilmu. Taqwa tidak akan diraih jika tidak menjalankan syariat. Dan seseorang tidak bisa menjalankan syariat kalo ia tidak berilmu. Maka ini, kita berangkat dengan menuntuu ilmu syar’I terlebih dahulu. Sebagaiman sabda nabi, bahwasanya menuntu ilmu syar’I adalah jalan menuju sorga.
Jadi, dalam mencari kenikmatan hidup di dunia, banyak rambu-rambu yang harus kita patuhi. Ketika ingin berjual beli dengan cara semacam ini. Stop dulu.. Cara ini diharamkan oleh syariat. Tinggalkan.. Ketika kita ingin melamar pekerjaan di suatu perusahaan, Upszz ternyata di perusahaan tersebut banyak terjadi pelanggaran syariat. Ketika kita ingin begini dan begitu, ternyata ini adalah bisni yang haram.. Maka kita tinggalkan..
Kedua,  tidak  menjadikan dunia sebagi puncak cita-citanya